PANORAMIC BANTEN

Ramadan di Musim Hujan: Strategi Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Bertenaga

27 February 2026
Ramadan di Musim Hujan: Strategi Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Bertenaga

Panoramic Banten.  Ramadan yang bertepatan dengan musim hujan menghadirkan tantangan tersendiri bagi kesehatan. Cuaca dingin, kelembapan tinggi, serta perubahan suhu yang drastis dapat memengaruhi daya tahan tubuh. Dalam kondisi berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan dan energi selama lebih dari 12 jam, sehingga manajemen kesehatan menjadi kunci agar ibadah tetap optimal dan aktivitas harian berjalan lancar. Musim hujan identik dengan meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan seperti flu, batuk, dan radang tenggorokan. Udara dingin dapat menurunkan respons imun, terlebih jika pola makan dan istirahat tidak terjaga. Karena itu, perhatian utama selama Ramadan adalah memperkuat sistem kekebalan tubuh melalui asupan nutrisi seimbang saat sahur dan berbuka. 

Menu sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau roti gandum agar energi bertahan lebih lama. Protein berkualitas dari telur, ikan, ayam, tahu, dan tempe membantu menjaga massa otot serta memperkuat sistem imun. Sayur dan buah yang kaya vitamin C serta antioksidan, seperti jeruk, jambu, bayam, dan wortel, juga penting untuk menangkal radikal bebas yang meningkat saat cuaca tidak menentu. 

Saat berbuka, tubuh memerlukan rehidrasi bertahap. Pola minum yang dianjurkan adalah membagi konsumsi air menjadi beberapa waktu antara berbuka hingga sahur. Meskipun suhu dingin sering membuat rasa haus berkurang, kebutuhan cairan tetap harus terpenuhi untuk menjaga fungsi metabolisme dan mencegah dehidrasi tersembunyi. Minuman hangat seperti air jahe atau teh herbal dapat membantu menghangatkan tubuh sekaligus melancarkan peredaran darah. 

Selain asupan nutrisi, menjaga suhu tubuh juga penting. Pakaian hangat setelah mandi atau menjelang sahur membantu mencegah penurunan suhu tubuh secara drastis. Hindari kebiasaan langsung terpapar angin malam dalam kondisi basah, karena hal tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Aktivitas fisik tetap diperlukan meskipun hujan turun hampir setiap hari. Kurangnya gerak justru membuat tubuh terasa lemas dan metabolisme melambat. Olahraga ringan seperti stretching, yoga, atau jalan santai di dalam rumah dapat membantu menjaga sirkulasi darah dan mempertahankan kebugaran tanpa menguras energi secara berlebihan. 

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kualitas istirahat. Pola tidur selama Ramadan sering berubah karena adanya sahur dan ibadah malam. Total waktu tidur ideal berkisar enam hingga tujuh jam per hari, yang dapat dibagi antara malam dan istirahat singkat di siang hari. Kurang tidur terbukti menurunkan daya tahan tubuh dan membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi. Ramadan di musim hujan sejatinya dapat menjadi momentum untuk memperbaiki pola hidup. Dengan manajemen nutrisi yang tepat, hidrasi cukup, aktivitas fisik teratur, dan istirahat berkualitas, tubuh tetap mampu beradaptasi dengan perubahan cuaca. Puasa bukan alasan untuk melemah, melainkan kesempatan untuk melatih kedisiplinan, termasuk dalam menjaga kesehatan. Melalui strategi sederhana namun konsisten, umat Muslim dapat menjalani Ramadan dengan tubuh yang tetap sehat, pikiran yang jernih, dan energi yang terjaga, meskipun hujan turun hampir setiap hari. 

Ramadan di Musim Hujan: Strategi Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Bertenaga