Pemanfaatan Limbah Cangkang Aren sebagai Solusi Bernilai Ekonomi dan Lingkungan Oleh: G. Awaludin Sobarsah, S.Si., M.T.
Panoramic Banten.
Limbah pertanian kerap menjadi persoalan lingkungan yang serius jika tidak dikelola dengan baik. Salah satu limbah yang belum banyak dimanfaatkan secara optimal adalah cangkang buah aren (Arenga pinnata), yang merupakan bagian luar dari buah kolang-kaling. Selama ini, cangkang tersebut umumnya dibuang begitu saja setelah daging buahnya diambil, baik di pasar-pasar tradisional maupun sentra pengolahan makanan. Akibatnya, limbah ini menumpuk dan berpotensi menimbulkan pencemaran. Padahal, dari perspektif teknik kimia, cangkang aren memiliki kandungan kimia yang cukup potensial. Berdasarkan hasil analisis, cangkang aren mengandung selulosa sebesar 40–50%, lignin 20–30%, serta kalsium dalam jumlah tinggi. Secara fisik, material ini bersifat keras, porous, dan tahan terhadap panas. Karakteristik tersebut membuka peluang pemanfaatan limbah cangkang aren menjadi berbagai produk bernilai tambah melalui proses-proses sederhana yang dapat diterapkan di tingkat masyarakat.
Salah satu pemanfaatan yang paling prospektif adalah pembuatan briket arang sebagai bahan bakar alternatif. Prosesnya diawali dengan karbonisasi cangkang dalam wadah tertutup hingga menjadi arang. Arang kemudian dihaluskan dan dicampur dengan perekat tepung kanji dengan perbandingan 10:1. Adonan tersebut selanjutnya dicetak dan dijemur hingga kering. Briket yang dihasilkan memiliki nilai kalor tinggi dan lebih ramah lingkungan dibandingkan kayu bakar. Di bidang pertanian, cangkang aren dapat diolah menjadi pupuk organik atau kompos. Caranya cukup dengan menghaluskan cangkang, lalu mencampurnya dengan kotoran ternak atau sampah organik lainnya. Kandungan kalsium di dalamnya berfungsi memperkaya unsur hara tanah.
Selain itu, cangkang aren juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan tangan, seperti pot mini, lampu hias, atau aksesoris. Di sektor pengolahan air limbah, arang cangkang aren berpotensi digunakan sebagai adsorben untuk menjerap logam berat dan polutan lain yang umum dihasilkan industri kecil. Dari sisi ekonomi, produk turunan cangkang aren seperti briket dapat dipasarkan dengan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Hal ini tidak hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga dapat menggerakkan UMKM lokal. Dari sisi lingkungan, pemanfaatan limbah ini membantu mengurangi timbunan sampah dan substitusi bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Dengan potensi yang besar dan proses pengolahan yang relatif sederhana, limbah cangkang aren layak dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif bahan baku dalam pengembangan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.